Senin, 24 Januari 2011

Syekh Shalih Arawi: Intifadhah di Tepi Barat Tidak Lama Lagi (wawancara)

Damaskus – Infopalestina:
“Mogok makan di penjara Abbas yang akan dilakukan oleh seluruh tapol kemungkinan besar akan terjadi. Di sisi lain, Hamas di Tepi Barat sudah mengakar lebih kuat dibanding perkiraan orang. Jika digelar pemilu maka gerakan ini akan menunai kemenangan lebih besar dibanding sebelumnya.”
Anggota Biro Politik Hamas, Syekh Shalih Arawi menegaskan bahwa upaya rekonsiliasi dan pertemuannya sudah dibekukan. Hamas sendiri paling banyak menggulirkannya dibanding pihak manapun, sebab gerakan ini serius melakukan rekonsiliasi. Pimpinan Hamas ini menyebut, ancaman elit milisi Abbas akan mengusir tapol Hamas dari Tepi Barat adalah tindakan sia-sia dan murahan. 

Dalam wawancaranya dengan Infopalestina Arawi yang diserahi menangani kasus tawanan gerakan ini menegaskan, sikap Hamas sudah permanen dalam menginginkan rekonsiliasi, bahkan “Kamilah yang menggulirkan pertama kali. Namun pada saat yang sama, kami tidak bisa menutup mata siksaan yang dialami kader-kader kami yang ditahan milisi Abbas. Sejumlah pertemuan yang kami gelar menjadi sia-sia. Karenanya, berat untuk melakukan pertemuan di tengah kondisi seperti ini. Karenanya, perlu perubahan riil di lapangan.” 

Syekh Arawi juga menyinggung sejumlah permasalan terkait Hamas dan masa depan situasi di Tepi Barat. Berikut petikan wawancaranya: 

Rekonsiliasi Palestina yang diharapkan oleh bangsa Palestina belakangan, terhambat oleh masalah keamanan, hingga ada kasus mogok makan. Kemudian kader Hamas yang menjadi tapol di Tepi Barat menggelar mogok makan. Apa sebenarnya yang terjadi? 

Rekonsiliasi sekarang dibekukan atau berhenti di tempat. Kami paling optimis, paling jujur dalam rekonsiliasi dibanding pihak lain.  Pihak Fatah lah yang menutup pintu rekonsiliasi dan lebih memilih Israel sebagai partner. Seharusnya mereka membuka pintu rekonsiliasi bagi persatuan nasional Palestina. Namun justru sekarang terjadi eskalasi berbahaya yang dilakukan Otoritas Abbas di Tepi Barat berupa penangkapan, penyiksaan, pengejaran kelompok perlawanan. Sehingga kondisi sangat pelik dan rumit. 

Apakah Hamas akan membuka pertemuan dengan Fatah jika masalah mogok makan akan selesai atau masalah tapol diselesaikan terlebih dahulu? 

SDikap Hamas sudah permanen dalam menginginkan rekonsiliasi. Kamilah yang menggulirkan pertama kali. Namun pada saat yang sama, kami tidak bisa menutup mata siksaan yang dialami kader-kader kami yang ditahan milisi Abbas. Sejumlah pertemuan yang kami gelar menjadi sia-sia. Karenanya, berat untuk melakukan pertemuan di tengah kondisi seperti ini. Karenanya, perlu perubahan riil di lapangan. 

Apakah kalian sudah mengontak gerakan Fatah soal ini? Adakah hasilnya, ataukah masih menggantung? 

Ada kontak terakhir antara kami soal memulai pertemuan. Hamas menyampaikan kepada Fatah bahwa harus ada prakondisi untuk menyukseskan rekonsiliasi sebab situasi saat ini sudah dikeruhkan secara massif di Tepi Barat.
Bagaimana tanggapan Fatah?
Apa yang kalian dengar dari media, mereka melempar tudingan bahwa kami menjadikan tema mogok makan sebagai lilin untuk melarikan diri dari rekonsiliasi. 

Apa lantas tanggapan Anda? 

Kami yang menggulirkan rekonsiliasi, kami yang peduli dengannya dan kami tidak memiliki pilihan kecuali bangsa kami, rekonsilisi dan perlawnaan. Kami tidak memiliki Amerika, Israel atau selain mereka. Tidak logis bila kami mencari-cari alasan untuk lari dari rekonsiliasi. Kalau kami tidak ingin rekonsiliasi, kami tidak akan menggulirkan rekonsiliasi dari awal. 

Adakah pilihan saat ini bagi Hamas sebagai alternatif?

Pilihan kami sudah permenan sebagai pilihan rakyat dan bangsa kami yakni pilihan perlawanan dan persatuan dan mencegah perang saudara. Karenanya, kami mendorong Tepi Barat sebagai tanggungjawab kami (karena kami yang menang pemilu). Sayangnya, pihak lain lari dari tanggungjawab. 

Bagaimana sebenarnya gambaran kasus tapol yang melakukan mogok makan di penjara Abbas? 

Saudara-saudara kami yang ditahan di penjara Abbas itu masih menggelar mogok makan (kini sudah dibebaskan akibat tekanan Qatar dan kembali ditangkap Israel). Berdasarkan kesepakatan Jenewa mereka mereka tidak makan makanan padat namun hanya makan yang cair. Tuntutan mereka adalah masalah mereka dibahas kembali dan menerapkan keputusan Mahkamah Tinggi Palestina di Ramallah agar mereka dibebaskan namun milisi Abbas menolaknya. Kami di Hamas mendukung para tapol dan tuntutannya. 

Sudah jelas milisi Abbas tidak serius dalam masalah ini, apa pilihan kalian sekarang? 

Hak saudara-saudara kami yang ditahan untuk menggelar mogok makan. Kami menghargai semua sikap mereka yang juga didukung oleh jurnalis dan aktivis HAM. Kami meminta agar dukung diberikan mereka terus.
 
Apakah ini benar-benar sikap dan pilihan yang ditempuh Hamas?
Saya ingin menyampaikan pesan kepada mereka (otoritas Abbas) bahwa tidak masuk akal mereka menutup pintu, kecuali satu pintu yang masih mungkin terbuka menggelar dialog yakni mogok makan.
Mogok makan di penjara Abbas yang akan dilakukan oleh seluruh tapol kemungkinan besar akan terjadi. Siapa yang mau melarang seseorang yang ditawan secara sewenang-wenang tanpa sebab dan tanpa pengadilan kemudian dia menggelar mogok makan. Kini pun ini berulang. Di sisi lain, Hamas di Tepi Barat sudah mengakar lebih kuat dibanding perkiraan orang. Jika digelar pemilu maka gerakan ini akan menunai kemenangan lebih besar dibanding sebelumnya

Ada yang menuding elit Hamas mendorong anak buahnya untuk mati dalam keadaan mogok makan, bagaimana kalian menanggapi ini? 

Pilihan mogok makan bukan intruksi dari elit Hamas. Ini pilihan mereka sendiri. Kami sudah pernah mencoba mogok makan ketika pintu solusi sudah ditutup semua. 

Apakah Hamas memiliki persepsi yang jelas dalam menyikapi Fatah soal tapol di penjara Abbas? 

Kami sejak awal menyatakan bahwa tidak boleh ada tapol yang disiksa. Kami tidak memiliki tapol yang disiksa. Silahkah siapa yang ragu atas hal ini untuk membentuk tim investigasi dari tim independen. Sudah jelas milisi Abbas tidak mampu menerapkan masalah ini sebab penyiksaan tapol adalah bagian dari kesepakatan mereka dengan penjajah Israel. 

Berapa jumlah tapol Hamas yang ada di penjara Abbas sekarang? 

Aksi penangkapan terus berlanjut setiap saat di Tepi Barat. Ada yang dibebaskan Israel kemudian ditangkap milisi Abbas atau sebaliknya. Namun saya bisa pastikan jumlah mereka ratusan orang.
Penangkapan kelompok perlawanan yang dilakukan milisi Abbas adalah upaya untuk mengubah citra pejuang Palestina sebagai penjahat. 

Apa sebenarnya legitimasi otoritas Abbas melakukan ini? 

Otoritas Abbas tidak perlu legitimasi melakukan ini. Sebab warga sudah paham apa maunya otoritas Palestina. otoritas Palestina sudah jelas bekerja anti perlawanan.
Apakah Anda mendukung agar perlawanan menghadapi (konfrontasi) dengan milisi Abbas? Atau bagaimana?
Kami tidak bisa menerima penangkapan milisi Abbas terhadap kelompok perlawnaan. Ini harus dihentikan. Namun untuk menyikapi penolakan milisi Abbas ini, para kader perlawanan diberi kebebasan, masing-masing lebih tahun tentang kondisinya. 

Bagaimana kondisi dan situasi Hamas di Tepi Barat? 

Hamas di Tepi Barat bukan gerakan terpinggirkan bukan sampingan. Tidak mungkin seseorang atau pihak bisa menghabisi eksistensinya. Hamas sudah mengakar di sana di atas dugaan siapapun. Justru kekuatan dan kedalaman Hamas ada di Tepi Barat. Popularitasnya jauh lebih besar di Tepi Barat. Kalau digelar pemilu di sana, Hamas pasti akan menang lebih di atas hasil pemilu tahun lalu. Ini karena perlawanan sudah mengakar di hati rakyat Palestina disamping karena politik Otoritas Palestina dan politik Israel belakangan ini serta koordinasi keduanya. Karenanya, di Tepi Barat hanya menunggu revolusi baru sekali lagi. Mereka tidak akan rela penjajah bertahan dan bercokol di sana. Perlawanan sedang menyiapkan aksi yang tidak lama lagi akan lahir Intifadhah baru.
Apakah ini riil? Sebab gerakan Hamas mengalami aksi sadis di Tepi Barat dari otoritas Palestina, pimpinannya dihabisi atau diusir?
Elit Hamas tidak dihabisi. Benar, yayasan dan lembaga mereka ditutup dan disita asetnya. Namun warga membangun kembali. Kekuatan mereka tidak mungkin bisa dihilangkan. Mereka memiliki pengalaman, kemauan dan tekad.
Bagaimana nasib otoritas nantinya?
Otoritas Palestina kini sedang mengalami krisis dalam. Ekonominya hancur karena mengandalkan dana dari negara donor. Jika medan berganti menjadi medan perlawanan, maka negara-negara donor akan memutus kucuran danamya sehingga otoritas Palestina tidak akan ada lagi.
Otoritas Palestina juga tidak memiliki basis massa. Otoritas hanya menggunakan Fatah sebagai legitimasi. Saya pastikan gerakan Fatah akan kembali memiliki jalan perlawanan karena kebanyakan elitnya memiliki haluan perlawanan. Gerakan ini tidak akan rela hidup di bawah bayang-bayang penjajah. Saya ingatkan di awal Intifadhah, ada keputusan agar tidak membela perlawanan. Namun ternyata itu tidak terjadi. Saya yakin Fatah akan kembali kepada pangkuan perlawanan. 

Realitanya, elit keamanan dikendalikan oleh elit Fatah, demikian juga elit politiknya, kenapa harus dipisahkan? 

Pemerintah Salam Fayyad sekarang yang memenang kendali. Dia pemilik dana dan mengendalikan semuanya. Ada sejumlah kader Fatah yang menuntut agar pemerintah Fayyad dibubarkan dan membentuk pemerintah baru. Namun mereka tidak mampu untuk itu karena Salam Fayyadl menolak.
Badan keamanan, kini sedang mengalami perubahan mendasar dalam strukturnya. Fayyad berharap akan diisi oleh orang-orangnya. 

Soal tawanan Hamas, apa misi gerakan ini kepada dunia Arab dan Islam? 

Kondisi tawanan semakin buruk dan semakin tersiksa. Kami bicara soal ribuan tawanan Palestina yang puluhan tahun berada di penjara Israel. mereka adalah manusia yang berhak hidup bebas, namun kebebasan mereka dirampas selama bertahun-tahun. Umat ini tidak akan bisa dibebaskan dari tanggungjawab terhadap tawanan Hamas atau warga Palestina lainnya karena mereka adalah bagian umat. (bn-bsyr)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar