Kamis, 26 April 2012

Antara PKS, Tarbiyah, dan Ikhwanul Muslimin - Sebuah Perjalanan Sejarah (bag. 3 - TAMAT)


 
 Undang-Undang Pemilu yang mengharuskan sebuah partai peserta pemilu sebelumnya mengganjal Partai Keadilan untuk turut dalam pelaksanaan pemilihan umum tahun 2004. Tetapi, sebuah siasat ditemukan dengan membuat partai baru bernama Partai Keadilan Sejahtera. Baju baru untuk orang-orang yang sudah ada sebelumnya, kira-kira begitulah Partai Keadilan Sejahtera.

Tumbangnya Orde Baru dan munculnya gerakan reformasi pada 1998 di Indonesia mengantar sebuah babak baru lagi bagi gerakan Tarbiyah. Berbagai partai bermunculan, tidak saja belasan atau puluhan jumlahnya, tapi ratusan.


Dan, salah satu partai baru yang ikut meramaikan suasana tersebut adalah Partai Keadilan, sebuah partai yang bermetamorfosis dari kelompok dakwah, gerakan Tarbiyah.

Partai Keadilan didirikan tanggal 20 Juli 1998, tapi secara resmi baru dideklarasikan pada 9 Agustus 1998 di halaman Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Singkat cerita, berbondong-bondonglah para kader Tarbiyah, mendeklarasikan dirinya pula sebagai kader Partai Keadilan.

Saya berusaha membatasi untuk tidak terlalu berkutat dan membahas tentang fenomena Partai Keadilan. Karena itu, izinkan saya langsung mengajukan sebuah fakta bahwa PK dinyatakan sebagai salah satu partai yang masuk dalam tujuh besar partai pendulang suara. Dengan cara dan sistem sel yang telah terbentuk dalam kultur Tarbiyah, dengan semangat dan kerja keras berbagi kebaikan, sebetulnya fenomena mencuatnya PK sebagai partai pendulang suara yang efektif sangat bisa dipahami. Sebab, partai ini adalah partai kader.

Pada Pemilihan Umum 1999, Partai Keadilan berhasil meraup sebanyak 1.436.563 suara umat Islamdi seluruh Indonesia. Artinya, PK berhasil mendapatkan 1,36 % dari total suara sah hasil pemilu 1999. Satu peringkat di bawah Partai Bulan Bintang (PBB) yang memproklamasikan diri sebagai penerus cita-cita Masyumi. PBB yang dipimpin oleh Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra ini mendapatkan 2.069.708 suara.

Lewat pemilu itu, PK berhasil mendudukkan seorang kadernya, Nur Mahmudi Ismail dalam kabinet Gotong Royong, memimpin Departemen Kehutanan dan Pertanian.

Namun, itu pun tidak berlangsung lama, setelah Presiden Abdurrahman Wahid lengser, Nur Mahmudi juga dilengserkan dan diganti. Presiden Megawati menunjuk salah seorang fungsionarisnya sebagai Menteri Kehutanan.

Meskipun relatif singkat, Nur Mahmudi, seorang kader Tarbiyah, yang sejak awal tulisan ini dijelaskan berciri pada kekuatan akhlak dan moral, mencatat rekor pemberantasan praktik KKN yang cukup signifikan. Bahkan, pada masa kepemimpinan Nur Mahmudi pula, Bob Hasan, Raja HPH berhasil dikirim ke Nusa Kambangan.


Sang kakak pun meleburkan diri pada diri sang adik. Partai Keadilan menggabungkan dirinya menjadi Partai Keadilan Sejahtera. Tak hanya bisa turut dalam Pemilihan Umum legislatif lalu, PKS juga menjadi partai kuat yang memenangkan suara di banyak daerah. Di DKI Jakarta misalnya, PKS memimpin perolehan suara di urutan pertama, disusul oleh partai baru, Partai Demokrat di urutan kedua. Selain di Jakarta, di propinsi Maluku Utara juga memimpin perolehan suara.

PK memperoleh 8.325.020 suara atau 7,34% dari total suara sah yang dihitung oleh KPU. Terjadi lonjakan suara berjuta-juta besarnya dari suara sebelumnya yang hanya 1.436.563.

Sedangkan Partai Bulan Bintang, yang pada pemilu 1999 berada di atas PK, kini jumlahnya hanya 2.970.487. Bahkan, berada pada peringkat delapan di bawah Partai Amanat Nasional yang juga menurun jauh jumlah perolehan suaranya.

Kerja keras kader PKS lewat dakwah, lewat gerakan Tarbiyah-nya membuktikan bahwa Partai Islam layak dipilih dan diharapkan. Tetapi di balik itu, saya sebetulnya memendam kekhawatiran atas komunitas yang punya potensi besar ini. Sebuah kekhawatiran atas napas panjang dan endurance kerja dakwah dari sebuah komunitas bernama Tarbiyah.

Sebelum sampai ke sana, mari saya ceritakan dulu tentang satu buku lagi yang berkaitan dengan Tarbiyah, dan kali ini mengupasnya dalam kemasan nama PKS, Partai Keadilan Sejahtera. Sebelum saya melakukan perjalanan ke Maluku, seorang teman lama saya, Aay Muhammad Furkon menerbitkan tesis S2 menjadi sebuah buku yang berjudul “Partai Keadilan Sejahtera; Ideologi dan Praksis K aum Muda Muslim Indonesia Kontemporer.”

 Dalam tesisnya, Furkon mencoba mencari dan menggali akar kelompok Tarbiyah, secara historis dengan mencoba menguhubungkannya dengan gerakan-gerakan Islam terdahulu di Indonesia. Tesis ini juga dibedah secara umum di Perpustakaan Nasional dengan mendatangkan William Lidle, Indonesianis asal Ohio University; Anis Matta, Sekjen PKS; dan Aay Muhammad Furkon sebagai pembicara.

Bill lidle mendapat informasi yang lebih kompleks tentang pengaruh Ikhwanul Muslimin di Indonesia daripada informasi yang ia dapatkan dari buku tadi.

Saya mengucapkan terima kasih kepada teman saya yang telah berbaik hati untuk mem-forward-kan email yang dia dapatkan dari Prof. William Lidle kepada saya. Dalam suratnya, Prof . William Lidle menuliskan:

Terima kasih atas kiriman makalah Anda yang sangat menarik sebagai analisis tentang Tarbiyah dan PKS, dan juga sebagai cermin harapan Anda.

Ketika saya membaca tulisan Furqon, saya mulai mendapat sebuah gambaran tentang PKS yang lebih kompleks, berlapis, ketimbang gambaran yang saya peroleh sebelumnya dari buku Ali Said (yang juga saya kagumi), dan tulisan-tulisan lain. Dan kompleksitas itu menarik sekali, pertama, dari segi pengertian pokok saya tentang Islam dan politik di Indonesia, kedua, dari segi yang lebih umum. Mengenai yang pertama, saya dulu berpendapat bahwa strategi politik M. Natsir selama Orde Baru telah ggal, hampir total. Natsir dan teman-teman mendirikan DDII pada awal Orde Baru sebagai alat prapolitik, jaringan kader, dan kesadaran ideologis. Mereka mengharapkan hal itu bisa digerakkan pada waktu yang tepat di masa depan ketika Soeharto menjadi lemah atau tidak berkuasa lagi. Kegagalan mereka, saya ukur dengan persentase suara yang diterima dalam pemilu 1999 oleh PBB, yang mengaku sebagai kelanjutan tradisi Masyumi/DDII/Natsir.

Sebaliknya, saya menganggap Nurcholis Madjid dan Abdurrahman Wahid sebagai pemimpin politik/sosial yang berhasil. Keberhasilan mereka, saya ukur dengan persentase suara yang diberikan kepada partai-partai yang pro-syariat. Hanya 14 %, berbeda sekali dengan persentase suara yang diberikan pada partai-partai pro-syariat pada pemilu 1955, di atas 40 %.

Nurcholis Madjid dan Abdurrahman Wahid memainkan peran penting dalam perubahan itu. (saya akan lampirkan artikel saya yang terbaru tentang Islam dan Politik di Indonesia, di sana, Anda bisa melihat analisis saya tentang dua tokoh tersebut).

Bartita baru yang saya dapat dari buku Furqon adalah bahwa cikal bakal gerakan Tarbiyah dan PKS juga bisa dirunut kepada natsir dan DDII. Tentu, seperti Anda akui juga, di belakang atau sebelum Natsir/DDII adalah Ikhwanul Muslimin, hasan Al-Banna dan Sayyid Quthb. Ide-ide dan juga struktur pokok gerakan Tarbiyah dan PKS berasal dari atau diilhami oleh Ikhwanul Muslimin.

Tetapi, natsir (juga Bang Imad tentunya) memainkan peran penting untuk menjembatani dua gerakan tersebut, yaitu IM di Mesir dan tarbiyah atau PKS di Indonesia. Kesimpulan baru saya adalah bahwa natsir juga berhasil sebagai politisi, sebab selama periode pasca Orde Baru. Benihnya baru ditanam pada pemilu 1999, tetapi pohonnya kini tumbuh dengan pesat dan sehat, seperti kita lihat pada pemilu 2004.

Dari segi teoritis, pengertian atau kesimpulan baru ini terasa sangat menggetarkan, exciting. Sebab, pendekatan teoritis saya, atau setidak-tidaknya yang sedang saya kembangkan, memberi peran utama kepada tokoh, individu. Saya tidak senang dengan pendekatan-pendekatan umum di ilmu-ilmu sosial yang selalu menekankan kekuatan-kekuatan sosial/budaya/ekonomi an sich.

Bagi saya, setiap kekuatan itu, apakah kapitalisme atau Islam, hanya punya dampak pada sebuah masyarakat melalui tindakan manusia, khususnya para pemimpin. Misalnya, saya sudah lama percaya, sebab buktinya meyakinkan, bahwa Cak Nur dan Gus Dur memainkan peranan sangat penting dalam perkembangan hubungan Islam dan politik di Indonesia. Tanpa mereka, sejarah politik Indonesia akan lain.

Belakangan ini, saya mulai mempelajari sejarah gerakan Islamis di Timur Tengah, dan saya menemukan hal yang sama: tanpa hasan Al-Banna dan Sayyid Quthb, sejarah Islamis di seluruh dunia Islam akan lain. Kini, ada penemuan baru yang perlu dianalisis lebih lanjt: ternyata, M. Natsir juga menjadi tokoh penting, bukan hanya pada zaman Demokrasi Parlementer, melainkan pada masa Orde Baru pula.

Saya tidak tahu apakah saya berhasil menyampaikan kesimpulan saya yang baru ini pada acara bedah buku Furqon, tetapi memang begitulah pendapat saya. Maaf, jawaban ini sudah kelewat panjang dan saya belum mengomentari argumen-argumen Anda sendiri yang menarik, misalnya tentang hubungan Tarbiyah dengan PKS di masa depan.

Sedangkan pak Anis Matta, saya menangkapnya tidak keberatan jika tesis ini mencoba mencarikan akar historis dalam konteks ke-Indonesia-an bagi gerakan Tarbiyah. Bagi saya sendiri, meskipun ada keterkaitan sejarah antara tarbiyah dengan orang-orang seperti M. Natsir, K.H. Bustami Darwis, atau dengan organisasi seperti Perti atau Masyumi, saya tetap akan mengatakan bahwa Tarbiyah lahir dari gagasan dan besar dengan gagasan Ikhwanul Muslimin. Itulah, fakta sejarah.

Karena itu pula, pada era perang terhadap terorisme yang dikobarkan oleh negara adidaya, Amerika, ini menjadi peluang empuk untuk menjerat gerakan dakwah ini. Tercatat atau tidak, diumumkan atau tidak, mereka mencoba mengaitkan dan mencoba mencari trigger untuk menarik masuk gerakan Islam tertua di dunia, Ikhwanul Muslimin, ke dalam kancah perang yang tak terbatas itu.

Bahkan, para pemikir dan kelompok think tank Amerika telah menempatkan sosok hasan Al-Banna dan Sayyid Quthb, tokoh pemimpin dan ideolog di Ikhwanul Muslimin, sebagai the philosopher of terror.

-TAMAT-
sumber :  http://mujahidsamurai.multiply.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar