Kamis, 26 April 2012

Antara PKS, Tarbiyah, dan Ikhwanul Muslimin - Sebuah Perjalanan Sejarah (bag. 2)

Pada 8 Juli 2001, untuk pertama kalinya Tarbiyah menyebut dirinya Tarbiyah, secara langsung. Lewat sebuah seminar yang bertajuk “Tarbiyah di Era Baru” yang digelar di Masjid Salam Universitas Indonesia, Depok.


Bahkan, dalam momentum ini pula, para aktivis Tarbiyah bersepakat mendaulat K.H. Rahmat Abdullah, yang saat itu menduduki jabatan Ketua Majelis Pertimbangan Partai Keadilan sebagai Syaikhut Tarbiyah, sang Syaikh Tarbiyah. Sebuah babak baru yang lain dari gerakan Tarbiyah yang sempat pula disebut dengan Jamaah Usrah ini.

Pada tahun 2001 atau 1442 H, lewat sebuah seminar, dicanangkan sebagai tahun kebangkitan Tarbiyah Islamiyah di Indonesia.

Tarbiyah adalah sebuah babak baru dari sebuah gerakan Islam di Indonesia. Tak jelas tahun berapa, Tarbiyah yang sering disebut-sebut sebagai anak yang lahir dari pemikiran gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir ini hadir dan mulai tumbuh di Indonesia.

Tetapi, jejaknya masih bisa dirunut lewat pemikiran M. Natsir yang pernah bersentuhan dengan pemikiran Ikhwanul Muslimin. Sebelumnya, bahkan pernah tercatat sebuah partai bernama Perti, Persatuan Tarbiyah.

Bahkan, Ketua Partai Masyumi ini pernah mengirim tokoh Masyumi yang lain, K.H. Bustami Darwis, seorang ulama Sumatera Barat yang menetap di Bandung untuk mempelajari secara khusus konsep pendidikan dan pengkaderan yang dicetuskan oleh Hasan Al-Banna itu.

K.H. Bustami Darwis sendiri pernah mendapat gemblengan langsung dari tokoh Ikhwanul Muslimin, salah satunya Abul Hasan Ali An-Nadwi ketika bermukim di India.

Tak jelas benar apa yang telah dihasilkan dan dirintis atas persentuhan dan usaha dua tokoh tadi, M. Natsir dan K.H. Bustami Darwis dengan pemikiran Ikhwanul Muslimin. Tetapi, diam-diam, ada sebuah gairah baru dalam ber-Islam yang tumbuh, khususnya di kalangan anak-anak muda, terutama di kampus universitas dan perguruan tinggi. Anak-anak muda yang sebelum 1998, membangun semacam dunia tersendiri dan komunitas yang lain. Gadis-gadis yang aktif dalam gerakan baru yang masih serba “misterius”, di awal 1970-an sudah mulai mengenakan jilbab. Para prianya pun punya tradisi baru, memelihara jenggot sebagai tanda pengikut sunnah.

Orde Baru yang berada pada puncak-puncak kekuasaannya pada 1970-an sampai 1980-an, punya peran tersendiri dalam kelahiran generasi yang kelak disebut dengan generasi Tarbiyah ini.

Seperti air, Orde Baru yang demikian represif membuat anak-anak muda dari generasi awal Tarbiyah mencari jalan dan celahnya sendiri untuk menyiasati situasi. Orde Baru memang belum bisa diruntuhkan dan dijebol, tapi parit-parit kecil yang berupa pertemuan dari rumah ke rumah, dari daurah ke daurah (pelatihan dan pendidikan yang bersifat keagamaan yang sering dilaksanakan oleh aktivis Tarbiyah) dengan rutin dan masif dilakukan oleh generasi awal ini.

Selain dari tumah ke rumah, dan dari satu daurah ke daurah lainnya, yang dilakukan sebagai reaksi atas represifnya penguasa, sebenarnya ada fenomena lain yang dimunculkan oleh Orde Baru atas gerakan ini. Fenomena itu adalah dibukanya kesempatan pendidikan, khususnya di tingkat perguruan tinggi karena perbaikan angka ekonomi Indonesia pada tahun-tahun itu. Saya memang belum punya detail data tentang hal ini, tapi secara sepintas bisa disimpulkan bahwa ini berarti pula kesempatan baru yang tercipta bagi embrio gerakan Tarbiyah.

Membanjirinya anak-anak muda yang memasuki dunia kampus, menciptakan parit tersendiri untuk air yang terus mencari celah agar terus mengalir.

Akhirnya, kampus, diakui atau tidak, menjadi semacam inkubator bagi proses gerakan Tarbiyah. Masa kuliah telah menjadi masa inkubasi bagi para aktivis dakwah tarbiyah. Masjid-masjid kampus mulai makmur dengan kehadiran mereka, jilbaber-jilbaber pun kian tahun kian banyak ditemui di dalam kampus. Dan, yang paling signifikan adalah, tak hanya ilmu-ilmu eksakta dan humaniora yang mereka pelajari dari kampus-kampus tempat mereka kuliah, tapi juga ilmu-ilmu agama lewat daurah dan dakwah gerakan Tarbiyah.

Meskipun setiap tahun populasi Tarbiyah kian signifikan di berbagai universitas baik negeri maupun swasta, belum juga membantu mengidentifikasikan apa, siapa, dan bagaimana gerakan ini. Mereka ada, tapi susah dipetakan, mereka signifikan, tapi sulit dijelaskan.

Seorang sahabat saya yang menulis “Fenomena Tarbiyah dan Partai Keadilan”, Ali Said Damanik dalam skripsi S1 di FISIP UI, dengan sangat menarik menuliskannya.

“Mereka anak-anak muda yang berbasis di mushala dan masjid-masjid kampus ini menciptakan ruang maya di tengah masyarakat. Mereka bisa menciptakan sebnuah ruang kultural yang bisa dilihat, tapi sulit untuk dilacak dan dibuktikan eksistensinya. Masyarakat sempat dibuat bingung dengan anak-anak muda yang terus lahir, tumbuh, dan hidup di tengah-tengah mereka sendiri, tetapi berbeda ekspresinya dengan masyarakat kebanyakan.”

Mereka terus bergerak, membangun pertumbuhan-pertumbuhan lewat liqo-liqo atau halaqoh yang setiap pekan rutin mengadakan pertemuan. Liqo dalam bahasa asalnya, Arab, berarti pertemuan, dan halaqoh adalah kelompok dari pertemuan itu. Tetapi, dalam komunitas Tarbiyah, kata tersebut digunakan untuk terminologi pertemuan dalam rangka pembinaan, baik tentang pemahaman Islam, moral dan akhlak, dakwah dan sosial maupun tentang pendidikan politik dan juga pemikiran.

Pada mulanya, liqo dilakukan dengan sedikit tersembunyi atau tidak terlalu terbuka. Sekali lagi, maklum, sebab utamanya adalah Orde Baru dan kekuasaan yang tak menghendaki kekuatan lain tumbuh dan menguatkan diri. Tetapi, kian lama kegiatan-kegiatan liqo semakin terbuka, karena memang, tidak satu pun rahasia atau semacam agenda konspirasi yang dibahas dalam pertemuan-pertemuan semacam ini. Liqo membahas masalah-masalah pendidikan karakter dan pribadi, mengajak orang dalam kebaikan, dan berbagi pengalaman dalam konteks keberagamaan .

Liqo bisa di mana saja. Di rumah-rumah anggota kelompok, di masjid atau mushala kampus, di bawah pohon rindang, bahkan di Kebun Raya Bogor yang sejuk dan penuh keindahan.
Yang menarik dari perkembangan gerakan Tarbiyah ini, dari dulu hingga sekarang, sebagian besar para aktivisnya adalah para sarjana atau mahasiswa dari bidang ilmu-ilmu eksakta. Sarjana matematika, biologi, kimia, dan fisika, teknik mesin atau sipil adalah mayoritas penghuni gerakan ini.

Bahkan, kini dikabarkan aset Tarbiyah yang kelak “dimerger” ke dalam Partai Keadilan Sejahtera berupa orang-orang pintar di ilmu eksakta sebanyak lebih dari 200 doktor dan Ph.D. Mulai dari kimia, fisika, pertanian, sampai teknik nuklir. Sebuah fenomena yang belum tentu dimiliki oleh partai-partai besar lainnya yang sudah lebih dulu ada di Indonesia, seperti Golkar, PPP, bahkan PDIP sekalipun.

Tentang fenomena ini, ketika memberikan taujih, ustad Anis Matta pernah menjelaskan kepada saya ketika saya menanyakan fenomena tersebut. Beliau mengatakan, “orang-orang eksakta biasanya menerima kebenaran sebagai kebenaran, lalu mengikutinya tanpa banyak pertanyaan. Berbeda dengan berdakwah di kalangan ilmu sosial, bahkan lebih berat lagi di kalangan art. Mereka selalu dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang luar biasa.”

Proses itu menghasilkan dua efek yang kahirnya memperbanyak fenomena kemunculan mayoritas kaum eksakta dalam gerakan dakwah ini.

Efek pertama, datang dari kaum eksakta yang sering kali tak memerlukan penjelasan yang rumit untuk tertarik pada sesuatu yang dianggap benar. Dan ini multiplayer effect, sebab, major eksakta pada masa itu menjadi jurusan yang favorit dan biasanya jurusan favorit akan mempunyai daya magnetis tersendiri untuk terus menghasilkan simpatisan yang kelak berproses menjadi kader dakwah Tarbiyah.

Efek kedua yang dimunculkan adalah, adanya semacam keengganan di antara pada kader dakwah tarbiyah untuk terjun dan melakukan rekruitmen kaderisasi di ranah ilmu-ilmu sosial dan art. Karena itu tadi, banyak pertanyaan yang harus dijawab sementara kesiapan untuk memberikan jawaban terlalu minim.

Keminiman para kader dakwah Tarbiyah dalam memberikan jawaban yang diharapkan oleh kaum di ilmu sosial atau art, sebetulnya sebuah keminiman yang bisa dianggap positif menurut saya. Sebab, mereka digedor-gedor oleh semangat saling berbagi dalam kebaikan lewat dakwah mereka. Bagaimanapun minimnya ilmu yang mereka kuasai, justru dari situlah yang memacu pertumbuhan gerakan ini.

Salah satu yang layak dicatat sebagai faktor penentu perkembangan dakwah gerakan Tarbiyah ini adalah semangat mereka untuk berbagi kebaikan, seluas mungkin, sebanyak mungkin. Para aktivis Tarbiyah tak menunggu sampai memiliki bertumpuk-tumpuk ilmu, beratus-ratus hafalan hadits atau berjuz-juz hafalan qur’an untuk berdakwah.

Satu hadits yang mereka dapatkan dalam pertemuan mingguan, atau satu ayat yang mereka bahas dalam liqo akan segera mereka sebarkan dengan semangat berbagi kebaikan, berbagi ilmu, dan mendapatkan balasan dari Allah SWT. Mereka mencoba benar-benar mengaplikasikan sebuah hadis dan ayat Al-Qur’an yang berbunyi, Balighu anni walau ayah. Sampaikan dariku walau hanya satu ayat.

Bersambung.... 
bagian ke-3 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar